Breath Of Life

SEJUK... seperti telaga biru yang teduh, LEMBUT... layaknya belaian sang surya diwaktu dhuha, INDAH... bagai surya dengan sinar jingganya, TENANG... penuh kharisma di sela kedamaian, Tersirat dalam pandangan Ayah & Bundaku tersayang

Tuesday, August 23, 2005

Biar Kuncupnya Mekar Jadi Bunga


Ternyata obrolan kita tentang cinta belum selesai. Saya telah menyatakan sebelumnya betapa penting peranan kata dalam mengekspresikan rasa cinta. Tapi bukan satu-satunya bentuk ekspresi rasa cinta. Cinta itu merupakan emosi manusiawi. Karena itu Ia bersifat fluktuatif. Naik turun mengikuti semua anasir di dalam dan di luar diri manusia yang mempengaruhinya. Itulah sebabnya saya juga mengatakan. Mempertahankan dan merawat rasa cinta sesungguhnya jauh lebih sulit dari sekedar menumbuhkannya.

Jadi, obrolan kita memang belum selesai, begitu pentingkah? Ah, mungkin secara harfiah tidak sejauh itu.tapi ini adalah masalah manusia yang paling dalam. Karna itu tidak heran kalau para ulama besar Islam merasa harus terlibat memberi kontribusi dalam soal ini.

Lihatlah misalnya pendiri madzhab terbesar kelima. Al-Zhaririyah, Muhammad bin Dawud Al-Zhahiri, menulis buku tentang cinta yang berjudul ‘Al-Zahrah’ (Bunga).seperti yang diceritakan Ibhul Qayyim dalam ‘Al-Jawab Al-Kafi’ Ahli fiqh itu sempat mengucapkan sebuah puisi cinta beberapa saat sebelum meninggal.

Masih dari madzhab Al-Zhahiri kita mewarisi sebuah pustaka cinta yang di tulis oleh Ibn Hazem Al-Andalusi, Yang ia beri judul ‘Thauk Al-Hamamah’ (kalung merpati) padahal, ulama ini jugalah penulis buku ‘Al-Muhallah’ yang menjadi referensi utama dalam madzhab Al_Zhahiri. Masih ada satu lagi ulama besar yang menulis dalam judul yang sama : Ibnul Qayyim. Ia menulis tema ini dalam satu buku tersendiri : ‘ Raudhat Al-Muhibbin ‘ (Taman para pecinta) tetapi Ia juga menulis tema ini dalam berbagai bukunya secara terpisah.

Walau begitu saya juga tidak merasakan adanya urgensi tertentu untuk menjawab pertanyaan ini : Apa itu cinta? Itu terlalu Filosofis. Saya lebih suka menjawab pertanyaan ini : Bagaimana seharusnya Anda mencintai? Pertanyaan ini melekat erat dalam kehidupan individu kita.

Cinta itu Bunga : Bunga yang tumbuh mekar di taman hati kita. Taman ini adalah kebenaran. Apa yang dengan kuat menumbuhkan, mengembangkan dan memekarkan bunga itu adalah : Air dan matahari. Air dan matahari adalah Kebaikan. Air memberinya kesejukan dan ketenangan tapi matahari memberinya gelora kehidupan cinta. Dengan begitu merupakan dinamika yang bergulir secara sadar di atas latar wadah perasaan kita.

Maka begitulah seharusnya Anda mencintai, menyejukkan, menenangkan, namun juga menggelorakan. Dan semua makna itu terangkum dalam kata ini : menghidupkan. Anda mungkin dekat dengan peristiwa ini bagaimana Istri Anda melahirkan seorang bayi. Ia merawatnya, menumbuhkannya, mengembangkannya, menjaganya. Ia dengan tulus berusaha memberinya kehidupan.

Bila Anda ingin mencintai dengan kuat, maka Anda harus mampu memperhatikan dengan baik, menerima apa adanya dengan tulus, lalu berusaha mengembangkannya semaksimal mungkin. Kemudian merawat dan menjaganya dengan sabar. Itulah rangkaian kerja besar para pecinta : Pengenalan, penerimaan, pengembangan dan perawatan.

Apakah Anda telah mengenal Istri anda dengan seksama? Apakah anda mengetahui dengan baik titik kekuatan dan kelemahannya? Apakah Anda mengenal kecenderungan-kecenderungannya? Apakah Anda mengenal pola-pola ungkapannya : melalui pemaknaan khusus dalam penggunaan kata melalui gerak motorik refleksnya, melalui isyarat rona wajahnya, melalui tatapannya, melalui sudut matanya?

Apakah Anda merasakan getaran jiwanya, saat Ia suka dan saat Ia benci, saat Ia takut dan sangat membutuhkan perlindungan? Apakah Anda dapat melihat gelombang mimpi-mimpinya, harapan-harapannya? Sekarang perhatikanlah pengenalan Rasulullah Saw terhadap istrinya Aisyah. Suatu waktu beliau berkata : “ wahai Aisyah, Aku tahu kapan saatnya Kamu ridha dan kapan saatnya kamu marah padaku. Jika kamu ridha maka kamu akan memanggilku dengan sebutan Ya Rasulullah! Tapi jika kamu marah padaku kamu akan memanggilku dengan sebutan Ya Muhammad!”

Apakah beda antara Rasulullah Saw dan Muhammad, kalau toh obyeknya itu-itu juga? Tapi Aisyah telah memberi pemaknaan khusus ketika Ia menggunakan kata yang satu pada situasi jiwa tertentu dan kata lainnya pada situasi jiwa yang lain.

Pengenalan yang baik harus di sertai dengan penerimaan yang utuh. Anda harus mampu menerimanya apa adanya. Apa yang sering menghambat dalam proses penerimaan total itu adalah pengenalan yang tidak utuh atau obsesi yang berlebihan terhadap fisik. Anda tidak akan pernah dapat mencintai seseorang secara kuat dan dalam kecuali jika anda dapat menerimanya apa adanya. Dan ini tidak selalu berarti bahwa anda menyukai kekurangan dan kelemahannya. Ini lebih berarti bahwa kelemahan dan kekurangnnya itu bukan kondisi akhir kepribadian dan selalu ada peluang untuk berubah dan berkembang. Dengan perasaan itulah seorang ibu melihat bayinya, apakah yang Ia harap dari bayi kecil itu? Ketika Ia merawatnya,menjaganya dan menumbuhkannya. Apakah Ia yakin bahwa kelak anak itu akan membalas kebaikan-kebaikannya? Tidak, semua yang ada dalam jiwanya adalah keyakinan bahwa bayi ini punya peluang untuk berubah dan berkembang. Dan karnanya Ia menyimpan harapan besar dalam hatinya bahwa kelak hari-hari jugalah yang akan menjadikan segalanya lebih baik.

Penerimaan positif itulah yang mengantar kita kepada mencintai selanjutnya : pengembangan. Pada mulanya seorang wanita itu adalah kuncup yang tertutup, ketika memasuki rumah Anda , memasuki wilayah kekuasaan Anda, menjadi istri Anda, menjadi Ibu Anak-anak Anda, Andalah yang bertugas membuka kelopak kuncup itu, meniupnya perlahan agar Ia mekar jadi Bunga. Andalah yang harus menyirami Bunga itu dengan air kebaikan , mebuka semua pintu hati Anda baginya, agar Ia dapat menikmati cahaya matahari yang akan memberinya gelora kehidupan. Hanya dengan kebaikanlah bunga-bunga cinta bersemi dan ungkapan “ Aku Cinta Kamu” boleh jadi akan kehilangan makna ketika dikelilingi perlakuan yang tidak simpatik dan mengembangkan. Apa yang harus Anda berikan kepada Istri Anda adalah peluang untuk berkembang, keberanian menyaksikan perkembangannya tanpa harus merasa bahwa superioritas Anda terganggu . Ini tidak berarti Anda harus memberi semua yang Ia senangi tapi berikanlah apa yang Ia butuhkan.

Tetapi setiap perkembangan harus tetap berjalan dalam keseimbangan dan inilah fungsi perawatan dari rasa cinta. Tidak boleh ada perkembangan yang mengganggu posisi dan komunikasi. Itulah sebabnya terkadang Anda perlu memotong sejumlah yang sudah kepanjangan agar tetap serasi dan harmoni.

Hidup ini adalah simponi yang kita mainkan dengan indah. Maka duduklah sejenak bersama istri Anda, tatap matanya lamat-lamat, dengarkan suara batinnya, getaran nuraninya, dan diam-diam bertanyalah pada diri sendiri Apakah Ia telah menjadi lebih baik sejak hidup bersama Anda? Mungkin suatu saat Ia akan mengucapkan Puisi Iqbal tentang gurunya : dan nafas cintanya meniup kuncupku maka Ia mekar jadi Bunga.

Sumber : Kumpulan Kolom Ayah M. Anis Matta

2 Comments:

  • At 3:25 PM, Blogger joeylane6094 said…

    i thought your blog was cool and i think you may like this cool Website. now just Click Here

     
  • At 11:22 AM, Blogger Jabrig said…

    jazakillah ukhti ima ...... bagus, ditingkatkan lagi ya.........


    ngak ngasih tahu punya blog nih

    [img]http://www.cosgan.de/images/more/bigs/c014.gif[/img]

     

Post a Comment

<< Home